Selasa, 17 Januari 2017
Sabtu, 14 Januari 2017
Jumat, 13 Januari 2017
Masih Mencari Sepatu

Aku berjalan pelan tanpa derap kaki
Menyusuri setiap lorong pejihad
Suara cekikik terkadang menyambar
kuping
Menebar asa kepada para penuntut ilmu
Hanya konotasi keras yang tercerna
Tiadalah sebilah bambu runcing yang siap untuk menebas
Mengayun langkah lari yang berebut
Memperjuangkan makna nyata dari mimpi
Betapa tidak hatiku menjerit?
Negeri ini telah nyata terjajah
Terkrikit batas batas kekayaan yang
melimpah
Budaya apa yang masih harus
dibanggakan?
Yang mana yang katanya proklamasi?
Gelora membara telah menjadi buih laut
Terombang-ambing angin disambar camar
Hilang sudah tertelan kenyang dibawa terbang
Siapa sebenarnya yang bodoh?
Masih tau bila negeri ini akan sirna
Malah pergi tuk ikut berpesta-pora
Tertawa dalam buaian canda
Ranjau mengarau suara telah parau
Hai para generasi muda! Apa kalian sadar?
Kini negara asing telah jauh lari mencuri kekayaan kita
Kalian masih saja mencari sepatu menakuti kerikil-kerikil
kecil
Mereka telah tertawa memandang kita
Merendahkan martabat bangsa kita
Menunjuk kita dan berkata
“Masih Mencari Sepatu”
Aku Tak Penat
Kasih! tak hanya
bulan yang tak nampak
Bintang pun jua
Mendung mendiang
menggelapkan rasa
Hadirkan angin
ribut dalam dekap selimut
Bila saja siang nanti hadir
Mendung tetap menjadi kuasa langit
Tak mampu menatap kehadiran sang Merah Senja
Dan sang Mega yang mengalir di langit
timur kala fajar tiba
Di mana ada
pelangi?
Akan kukejar ia
hingga kudapati warna langit malam
Pun jika ada,
takkan kudapati warna putih bintang
Kendati tak
seberapa indahnya yang lengkap disini
Rautan gir motor yang melesat
Kurup-kurup suara dokar menapak
Tak ada lagi dalam pandangku
Kemana jua derit kawan yang menjamah
hati ini Tuhan?
Tak lelah! Aku
tak pernah penat!
Di kala embun
datang kumasih menunggu senja
Datang senja tak
pergi, kusiapkan lentera
Tetap tak
kutemui rembulan, kan kunanti malam lagi
Embun datang, terik menyengat, senja
merayap, malam memampat
Mengalir saja seperti kuasa-Mu
Jangan takut kasih!
Aku tak lelah, tak pernah penat menanti
Jumat, 06 Januari 2017
Pendekar
Dor dor dor... !
Hanya aku yang menatap cahaya itu dengan sikap tegak dan mata berbinar
Kupandangi setiap kelebihannya
Entah sejak kapankah aku menjadi tertarik dengan dunia keloyalan itu
Mereka benar, kami hanyalah anak anak yang tak mengerti apapun
Setiap hari kami hanya dapat berbicara
Tak siap dengan hal yang telah menghadang
Jika ada masalah, kami hanya dapat menjerit
Tak bertindak untuk menyelesaikannya
Mereka tak mengerti padanya
Memang terlalu keras
Tetapi dalam hatinya lembut
Bagi mereka, baginya pun
Semua tak mengerti apa yang ku suka
Aku memahami lebih.
Tapi mereka,
Walau tak memahami mudah menilai
Tak mau!
Merekah sudah kakagumanku
Aku benar benar kagum
Padanya, Pendekar !
Hari itu, ku terkagum kagum
Semangat semangat!
Dor dor dor !!!
Hanya aku yang menatap cahaya itu dengan sikap tegak dan mata berbinar
Kupandangi setiap kelebihannya
Entah sejak kapankah aku menjadi tertarik dengan dunia keloyalan itu
Mereka benar, kami hanyalah anak anak yang tak mengerti apapun
Setiap hari kami hanya dapat berbicara
Tak siap dengan hal yang telah menghadang
Jika ada masalah, kami hanya dapat menjerit
Mereka tak mengerti padanya
Memang terlalu keras
Tetapi dalam hatinya lembut
Bagi mereka, baginya pun
Semua tak mengerti apa yang ku suka
Aku memahami lebih.
Tapi mereka,
Walau tak memahami mudah menilai
Tak mau!
Merekah sudah kakagumanku
Aku benar benar kagum
Padanya, Pendekar !
Hari itu, ku terkagum kagum
Semangat semangat!
Dor dor dor !!!
Langganan:
Postingan (Atom)



